Jumat, 18 Desember 2009

Madura Hindu Merayakan Nyepi (2)

Tawur Agung, ritual penghancuran makhluk jahat menjelang pelaksanaan catur brata penyepian, dianggap Pemangku Saptono sama dengan takbiran dalam konteks masyarakat Muslim. Pemangku adalah modin untuk umat Hindu.

Tawur agung dilaksanakan menjelang hari raya, yakni Nyepi. Inti tawur agung ada dua, yakni pembakaran ogoh-ogoh yang melambangkan kekuatan jahat di dunia, serta mengagungkan Tuhan. “Sama dengan takbiran, kan?” kata Saptono.

Hari setelah pelaksanaan tawur agung adalah Nyepi atau peringatan tahun baru Saka yang saat ini ada di posisi 1931. Sejak Kamis (26/3) pukul 05.00 warga Hindu berpuasa dan baru berbuka pada Jumat (27/3). Puasa ini disebut catur brata penyepian (empat puasa nyepi). Keempat puasa itu adalah amati geni (tidak menyalakan lampu dan alat penerangan lain), amati karya (tidak bekerja dan aktivitas lain), amati lelungan (tidak bepergian), serta amati lelanguan (menghindari suara, termasuk radio dan televisi).

“Tentu masih ada dispensasi. Mereka yang punya balita dan menangis kalau gelap, misalnya, tetap boleh menyalakan lampu. Hanya kalau biasanya memakai lampu listrik yang terang, khusus untuk Nyepi diganti lambu kecil saja,“ kata Saptono.

Setelah puasa 24 jam penuh, pada Jumat pagi, warga Hindu berbuka. Dusun Bongso Wetan dan Bongso Kulon kembali meriah. Warga Hindu di kedua dusun berpesta ngebak geni yang secara harfiah berarti “menyalakan kembali api“.

Setelah bersembahyang di pura, warga Hindu terlibat dalam kemeriahan seperti umat Islam kala Idul Fitri: bersalaman dan makan-makan.

“Kami tidak hanya berkeliling dengan sesama Hindu, namun juga dengan para tetangga yang Muslim. Saat Idul Fitri, tetangga kami yang Muslim juga merayakannya dengan kami,“ kata Saptono. “Tak ada perselisihan karena agama di sini,“ lanjutnya, gembira.

Sederhana Dibanding Bali

Meski sama-sama Hindu, namun sejumlah praktik umat Hindu di Dusun Bongso Wetan tidak persis sama dengan saudara mereka di Bali.

Di Bali, Hari Raya Galungan adalah hari raya terbesar. Sementara bagi umat Hindu di Bongso Wetan, Nyepi adalah perayaan paling meriah.

“Kami hanya sembahyang di pura saja saat galungan, sementara umat Hindu di Bali menggelar upacara besar,“ kata Saptono.

Secara teologis, baik galungan maupun nyepi penting bagi umat Hindu. Galungan adalah hari penciptaan alam semesta, juga lambang kemenangan dharma (kebaikan) dari adharma (keburukan). Sementara, nyepi adalah pergantian tahun yang berarti pergantian dari kealpaan menuju perbaikan.

Secara umum, masyarakat Hindu Bongso menganut kebiasaan ritual yang lebih sederhana dibanding Bali. Warga yang meninggal, misalnya, langsung dikubur. Tidak pernah dilakukan upacara ngaben (mengkremasi jenazah secara Hindu).

“Kami tidak biasa. Lagi pula upacara aben itu sangat mahal,“ kata Saptono. “Sekali aben bisa habis hingga di atas Rp 100 juta. Itu berat bagi kami. Bagi umat Hindu Bali pun demikian. Karena itu banyak yang baru bisa melakukan upacara aben setelah beberapa tahun sejak kematian keluarganya,“ kata ayah 4 anak ini.

Bukan hanya ngaben, upacara pangur pun jarang dilakukan di Bongso. Pangur adalah upacara meratakan gigi taring hingga tak lagi memiliki bagian yang runcing. Ngilu, tentu. Namun, rasa ngilu yang kadang bertahan hingga sepekan itu harus ditanggung untuk melenyapkan runcing taring yang dianggap sebagai perlambang hawa nafsu penggoda manusia pada kejahatan. Dengan pangur, tendensi ke arah kejahatan dan asusila bisa dikurangi.

“Pangur juga bukan upacara yang murah. Beberapa waktu lalu saya dan 2 saudara sepupu saya di-pangur. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 75 juta,“ kata Yuli, warga Hindu Surabaya berdarah Bali. Upacara pangur-nya juga dilangsungkan di rumah keluarga besarnya di Bali.

Di Bongso ada juga yang menggelar upacara pangur, namun jumlahnya sedikit sekali. Soal ini Samiun (28), pemuda lajang ini yang belum di-pangur ini beralasan terpenting mampu menjaga nafsu. “Percuma bila di-pangur namun tak bisa menjaga hawa nafsu sendiri,“ kata pemuda itu saat ditemui di Pura Kerta Bumi, Dusun Bongso Wetan.

Yang juga berbeda adalah banten alias sesajen. Banten di Bali, dalam kesempatan apa pun, selalu lebih banyak dan beragam dibanding di Bongso. “Tapi itu tidak jadi masalah. Desa kala patra,“ kata Saptono mengutip pepatah yang kurang lebih sama artinya dengan “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya“.

Tetap Mengaku Madura

Bila identitas kehinduan masih melekat kuat, tidak demikian dengan identitas kesukuan mereka. Saptono memang menyebut dirinya Madura. Namun, ia tidak terlalu memusingkan saat anak-anaknya tidak lagi fasih berbahasa Madura.

Bagi Saptono, itu sekadar konsekuensi dinamika zaman.

“Mereka menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari,“ kata Saptono. “Karena itu kemampuan berbahasa Madura mereka tak lagi bagus,“ lanjutnya.

Hal itu diakui Purwandi dan adiknya, dua anak Saptono. “Untuk bicara dalam bahasa Madura memang sulit. Namun kami tetap bisa memahaminya,“ katanya dalam bahasa Jawa.

Samiun, seorang pemuda Madura Dusun Bongso Wetan, juga terbata-bata bicara dalam bahasa Madura. Pemuda yang ditemui bermain suling ini bahkan seringkali terdiam saat diajak berkomunikasi dalam bahasa Madura. “Ada sebagian yang saya tidak paham,“ katanya.

Identitas kemaduraan lebih banyak bertahan dalam bentuk pakaian adat. Baju gombor hitam dan kaos lorek putih-merah masih kerap mereka pakai dalam perayaan keagamaan. Saat peringatan melasti dan pawai ogoh-ogoh di Tugu Pahlawan, dua hari lalu, misalnya, mereka memakai pakaian tradisional Madura tersebut. Melasti adalah ritual pembersihan alat-alat di pura. Air bekas penyucian alat-alat pura ini kemudian dilarung di laut sebagai perlambang dibuangnya hal-hal kotor dari dalam diri kita.

Bisa jadi longgarnya identitas kemaduraan ini karena komunitas Madura di Bongso Wetan tidak lagi memiliki keluarga di Pulau Madura.

“Nenek moyang kami memang orang Madura. Namun jangan tanya kami bagaimana sejarahnya mereka bisa sampai di sini. Saya tidak tahu. Orang-orang tua sebelum saya pun tidak tahu,” kata Saptono.

Yang jelas, Saptono dan warga Madura lain di Bongso Wetan tak lagi memiliki keluarga di Pulau Madura. Mereka tidak lagi toron (mudik) ke pulau garam itu.

“Kalau pun ada yang memiliki kerabat di Pulau Madura, itu adalah hasil perkawinan, bukan nasab langsung,” ujar lelaki 52 tahun ini.

Ternyata, bukan hanya dalam hal identitas kesukuan mereka longgar. Dalam hal keagamaan pun mereka tidak terlalu fanatik.

Menurut Saptono, penduduk penganut Hindu dan Muslim saling menghormati. Mereka tidak memaksa anak-anak untuk ikut agama mereka.

“Kami ikut saja apa maunya anak-anak. Mereka ingin tetap Hindu, boleh. Ingin menikah dengan yang Muslim atau berganti agama menjadi Islam pun terserah,” katanya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar